Aksi solidaritas tak biasa dilakukan oleh siswa SMP di perbatasan Indonesia-Malaysia, Kalimantan Utara. Dalam video yang viral pada Sabtu (31/1/2025), mereka berorasi di tengah jalan berlumpur tanpa alas kaki, menuntut perbaikan infrastruktur yang mendesak.
Tuntutan Perbaikan Jalan di Perbatasan
Peristiwa ini terjadi di ruas jalan antara Pa’ Kebuan dan Long Umung, wilayah Krayan Timur. Kondisi jalan yang memprihatinkan, hanya berupa tanah liat becek dan berlubang dalam, memaksa seorang siswa bernama Gilbert Christian melepas sepatunya agar dapat berdiri stabil saat berorasi. Aksi ini didampingi belasan warga Krayan Timur yang mengenakan atribut adat Dayak Lundayeh, serta membentangkan poster berisi tuntutan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Gilbert Christian, siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Krayan Timur, dengan tegas menyatakan bahwa bagi pelajar di wilayah perbatasan, perbaikan infrastruktur jauh lebih mendesak ketimbang program makanan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah. “Kami tidak membutuhkan makanan bergizi gratis, melainkan membutuhkan perbaikan jalan!” serunya.
Inisiatif Warga dan Surat Terbuka untuk Presiden
Kepala Desa Pa’ Betung, Aprem Rining, mengonfirmasi bahwa aksi tersebut murni inisiatif warga dan siswa yang telah jenuh dengan kondisi jalan. “Itu inisiatif dari hati nurani mereka sendiri. Setiap hari mereka harus melewati jalan itu untuk ke sekolah, perjalanannya bisa satu jam. Motor sering amblas, bahkan mereka sering harus jalan kaki tanpa sepatu karena lumpur terlalu dalam,” ujar Aprem saat dihubungi, Minggu (1/2/2026).
Dalam aksi tersebut, warga juga menyampaikan surat terbuka untuk Presiden Prabowo yang berisi empat poin utama:
- Pemenuhan hak dasar masyarakat perbatasan.
- Keadilan dalam pembangunan infrastruktur jalan yang bersumber dari APBN.
- Percepatan dan kepastian komitmen pemerintah pusat dan provinsi.
- Meminta kehadiran nyata pemerintah di lapangan, bukan sekadar melihat Krayan di atas peta.
Aprem menambahkan, “Warga sebenarnya tidak menolak program pemerintah pusat, namun mereka meminta skala prioritas. Hasil bumi kami di Krayan ini melimpah, untuk makan kami rasa cukup. Alangkah baiknya anggaran makan gratis itu kalau bisa dialihkan atau diutamakan untuk membangun jalan dulu. Kami ingin pembangunan yang merata seperti di Jawa.”






