Berita

Satu Abad NU: Prabowo Subianto Dipastikan Hadir di Harlah Akbar Istora Senayan

Advertisement

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan merayakan usia satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dengan menggelar acara akbar di Istora Senayan, Jakarta, pada Sabtu, 1 Februari 2026. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan hadir dalam perhelatan akbar tersebut.

Persiapan Matang Sambut Satu Abad NU

Ketua PBNU, Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya, menyatakan bahwa seluruh persiapan telah rampung. Ia juga mengonfirmasi undangan yang telah dikirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto, para menteri kabinet, pimpinan lembaga, serta duta besar negara sahabat. Sebagian besar tamu undangan telah mengonfirmasi kehadiran.

“Kami sudah mengirim undangan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, juga kepada seluruh menteri kabinet dan pimpinan-pimpinan badan serta lembaga. Para dubes kami juga kirimi semua undangan dan hampir semuanya sudah mengonfirmasi kehadiran. Mudah-mudahan besok Bapak Presiden tidak berhalangan, juga bisa hadir bersama-sama kami. Hal-hal yang sifatnya teknis sudah dikoordinasikan termasuk dengan Paspampres. Mudah-mudahan semua bisa berjalan lancar besok,” ujar Gus Yahya dalam jumpa pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026).

Acara satu abad NU ini akan dihadiri oleh jajaran pengurus besar NU dari seluruh tingkatan, termasuk Tanfidziyah, Syuriyah, lembaga-lembaga, Mustasyar, Awan, serta badan otonom seperti Muslimat, Fatayat, dan Ansor. Selain itu, pimpinan pondok pesantren besar, para kiai sepuh, perwakilan pengurus wilayah dari 38 provinsi, dan 548 pengurus cabang NU dari seluruh Indonesia juga dipastikan hadir. Diperkirakan, acara ini akan dihadiri oleh sekitar 10.000 peserta.

Tema dan Visi Peradaban Mulia

Harlah ke-100 NU akan mengusung tema ‘Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia’. Gus Yahya menjelaskan bahwa tema ini mencerminkan keselarasan visi Nahdlatul Ulama dengan cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yaitu memperjuangkan peradaban yang luhur bagi seluruh umat manusia.

“Gagasannya adalah bahwa visi Nahdlatul Ulama ini sebetulnya sebangun dengan visi proklamasi kemerdekaan, yaitu memperjuangkan peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia,” jelasnya.

Terkait teknis pelaksanaan, Gus Yahya menyebutkan bahwa setelah melalui berbagai pertemuan dan kesepakatan, semua kembali pada kesepakatan awal atau default. “Bahwa sebelumnya sudah ada pertemuan-pertemuan, ada kesepakatan-kesepakatan, kesepakatan-kesepakatan dengan Rais Aam. Sampai pada titik bahwa setelah terjadi pertemuan kemarin sore, maka semua kembali ke default. Dan itu berarti semua kita laksanakan bersama-sama,” ucapnya.

Advertisement

Indonesia dan Amanat Kemerdekaan Palestina

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya juga menanggapi bergabungnya Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace. Menurutnya, upaya membantu Palestina merupakan bagian integral dari amanat proklamasi kemerdekaan Indonesia.

“Ya saya kira semua orang memahami bahwa ini dipandang kontroversial oleh berbagai kalangan. Nah kemudian kenapa kita, Indonesia ini bergabung? Kenapa Presiden menyatakan bergabung? Tentu Presiden punya pertimbangan-pertimbangan sendiri,” kata Gus Yahya.

Ia menegaskan kembali pandangannya yang telah berulang kali disampaikan, bahwa membantu Palestina adalah wujud nyata dari komitmen terhadap amanat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. “Tapi dalam pandangan kami, dalam pandangan kami, saya sudah pernah menyatakan begitu berkali-kali sebetulnya, dan selama ini saya ulang-ulang, bahwa membantu Palestina adalah bagian dari amanat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,” lanjutnya.

Gus Yahya menambahkan, di tengah ketidakpastian global saat ini, Indonesia perlu hadir dan berperan aktif melalui berbagai platform untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Ia menilai keputusan Presiden untuk bergabung dalam Board of Peace adalah langkah yang tepat.

“Maka menurut saya, keputusan Presiden untuk bergabung di dalam Board of Peace ini, saya kira adalah keputusan yang tepat berdasarkan komitmen yang abadi untuk membantu Palestina. Telah dinyatakan bahwa Board of Peace ini dibuat untuk menjadi wahana membicarakan tentang perdamaian di Palestina, untuk Palestina. Kalau tidak ada pihak yang sungguh-sungguh, sungguh-sungguh punya komitmen membantu Palestina ada di dalamnya, siapa yang akan bersuara demi Palestina?” pungkasnya.

Advertisement