Berita

Respons Cepat Prabowo Atasi Guncangan Pasar Modal RI Dipuji, Transparansi Jadi Kunci

Advertisement

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno, mengapresiasi respons cepat dan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi goncangan pasar modal Indonesia. Langkah ini diambil menyusul dihentikannya index rebalancing oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap saham-saham Indonesia akibat kekhawatiran mengenai transparansi dan tata kelola bursa.

Dorong Peningkatan Transparansi dan Free Float

Eddy Soeparno menyatakan bahwa komitmen presiden, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, untuk segera meningkatkan free float dan transparansi kepemilikan saham merupakan kebijakan yang dinanti oleh kalangan investor. Hal ini terutama penting bagi investor asing yang memegang peranan signifikan dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Komitmen presiden sebagaimana disampaikan Menko Perekonomian untuk segera meningkatkan free float dan transparansi kepemilikan saham merupakan sebagian di antara kebijakan yang ditunggu kalangan investor, khususnya investor asing yang sesungguhnya memiliki peran yang besar dalam perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI),” ujar Eddy dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).

Perbaikan Tata Kelola Kunci Hindari Penurunan Peringkat

Menurut Eddy, perbaikan tata kelola menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan statusnya sebagai pasar berkembang. Ia menekankan bahwa hanya melalui perbaikan tata kelola, transparansi, dan peningkatan likuiditas di bursa saham, Indonesia dapat terhindar dari penurunan peringkat MSCI dari emerging ke frontier market.

“Hanya melalui perbaikan tata kelola, transparansi dan peningkatan likuiditas di bursa saham Indonesia akan terhindar dari penurunan peringkat MSCI dari emerging ke frontier market,” jelasnya.

Tenggat Waktu Mendesak dari MSCI

Eddy Soeparno juga menyoroti tenggat waktu evaluasi dari MSCI yang semakin mendesak. Ia mendorong Direksi BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk segera melakukan pembenahan.

“Karena MSCI memberikan tenggat waktu evaluasi sampai dengan bulan Mei, maka kami mendorong Direksi BEI dan OJK untuk segera berbenah,” katanya.

MSCI sebagai ‘License to Invest’ Investor Asing

Ia menambahkan bahwa MSCI bukan hanya sekadar panduan bagi investor institusional asing untuk berinvestasi di saham-saham Indonesia, melainkan juga berfungsi sebagai ‘license to invest‘ bagi sebagian besar investor asing. Investor asing tercatat memegang sekitar 45% dari total nilai kepemilikan saham di BEI.

Advertisement

“Tidak mengherankan ketika MSCI menjatuhkan ‘mosi tidak percaya’ kepada pasar saham Indonesia terjadi penjualan saham besar-besaran sehingga index saham di bursa anjlok hampir 8%,” tambahnya.

Dampak Penurunan Harga Saham pada Investor Minoritas

Eddy Soeparno mengingatkan bahwa jika harga saham-saham BUMN anjlok, kekayaan nasional juga akan terdampak. Namun, yang paling merasakan dampaknya adalah para investor minoritas yang menggunakan tabungan atau uang pensiun mereka untuk berinvestasi di pasar modal.

“Namun yang paling terdampak adalah para investor minoritas yang merupakan pribadi-pribadi yang menggunakan tabungan atau uang pensiunnya untuk berinvestasi di pasar modal,” urainya.

Apresiasi Perlindungan Investor Kecil dan Aset Negara

Oleh karena itu, Eddy Soeparno menyampaikan apresiasi terhadap perhatian Presiden Prabowo terhadap perlindungan investor kecil dan aset negara.

“Oleh karenanya kami mengapresiasi Presiden Prabowo yang menaruh perhatian untuk melindungi kepentingan investor kecil dan menjaga nilai aset bangsa yang di BUMN yang tercatat di pasar modal,” terangnya.

Ia menutup dengan menyatakan bahwa saatnya berbenah dan tidak ada waktu untuk beristirahat demi perbaikan yang dibutuhkan agar Indonesia lolos dari evaluasi MSCI pada bulan Mei dan terus berkembang memiliki pasar modal berstandar internasional.

“Sekarang saatnya berbenah dan kita tidak mengenal istirahat untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan agar Indonesia lolos dari evaluasi di bulan Mei dan terus berkembang memiliki pasar modal dengan kinerja dan tata kelola berstandar internasional,” tutupnya.

Advertisement