Berita

Mendikdasmen Resmikan 76 Sekolah Baru, Pulihkan Pendidikan Pasca-Bencana di Aceh

Advertisement

Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meresmikan 76 sekolah yang telah direvitalisasi, menandai langkah penting dalam pemulihan layanan pendidikan pascabencana di Aceh. Peresmian terpusat di SD Negeri 12 Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dan SMA Negeri 1 Baktiya, Kabupaten Aceh Utara, pada Senin (2/2/2026), menegaskan komitmen pemerintah untuk menciptakan ruang belajar yang aman dan layak bagi siswa.

Upaya Pemulihan Infrastruktur Pendidikan

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan ini merupakan bagian dari upaya nasional percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah yang terdampak bencana, dengan target penyelesaian bertahap hingga 2026. Di SD Negeri 12 Bintang, Abdul Mu’ti secara simbolis meresmikan 53 satuan pendidikan yang tersebar di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Program ini secara khusus dirancang untuk memulihkan infrastruktur pendidikan pasca-banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah dataran tinggi Gayo.

“Sekolah harus kembali menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman. Karena itu, revitalisasi tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga memastikan keberlanjutan layanan pendidikan,” ujar Abdul Mu’ti saat berada di Aceh Tengah, Kamis (29/1/2026).

Relokasi dan Pembangunan Sekolah Terdampak Bencana

Dalam kunjungan kerjanya, Abdul Mu’ti meninjau langsung sejumlah sekolah yang rusak akibat bencana, termasuk yang masih menggelar pembelajaran di ruang darurat. Ia menyatakan bahwa pemerintah akan merelokasi sekolah yang berada di zona rawan bencana dan mempercepat pembangunan fasilitas pendidikan baru. Khusus untuk SMP Negeri 22, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, yang rusak berat dan berulang kali tertimpa longsor, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa bangunan tersebut sudah tidak memungkinkan untuk digunakan. Pemerintah Pusat telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk merelokasi sekolah ke lokasi baru yang telah disiapkan.

“Insyaallah, sekolah tersebut akan mendapatkan bantuan pembangunan Unit Sekolah Baru pada tahun 2026,” katanya. Sementara itu, SD Negeri 12 Bintang yang mengalami longsor di bagian belakang bangunan akan menerima bantuan tambahan berupa pembangunan ruang kelas baru.

Rehabilitasi di Aceh Utara

Sehari sebelumnya, Rabu (28/1), Abdul Mu’ti juga meresmikan 23 satuan pendidikan yang terpusat di SMA Negeri 1 Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. Sekolah ini merupakan bagian dari program rehabilitasi satuan pendidikan terdampak bencana yang dilaksanakan sesuai standar keselamatan bangunan dan kebutuhan pembelajaran.

“Pemerintah berharap upaya revitalisasi ini dapat memperkuat pemerataan layanan pendidikan yang aman, inklusif, dan berkualitas. Sekaligus memastikan pemulihan pendidikan pascabencana berjalan berkelanjutan khususnya di daerah terdampak,” jelasnya.

Advertisement

Rincian Sekolah yang Rampung

Saat ini, dari Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2025, sebanyak 36 sekolah di Kabupaten Aceh Tengah dan 17 sekolah di Kabupaten Bener Meriah telah rampung 100 persen dibangun dan direhabilitasi. Seluruhnya siap dimanfaatkan untuk kegiatan belajar mengajar.

Modernisasi Pembelajaran dan Dukungan Guru

Sejalan dengan penguatan infrastruktur fisik, Abdul Mu’ti mendorong modernisasi pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi. Sekolah-sekolah yang telah menerima Papan Interaktif Digital (PID) akan diperkuat dengan dukungan konektivitas internet, termasuk layanan internet berbasis satelit untuk mengatasi kendala geografis di wilayah pegunungan dan daerah terpencil. Abdul Mu’ti juga menyebut akan terus mengupayakan pemenuhan kebutuhan pendukung, termasuk pembangunan ruang guru dan rumah dinas guru, demi menjaga keberlanjutan layanan pendidikan di wilayah terpencil.

Dampak Nyata Revitalisasi

Dampak revitalisasi ini dirasakan sangat berarti bagi satuan pendidikan. Yusbida dari SLB Negeri Silih Nara Angkup, Takengon, dan Marhamah, Kepala SMAN 1 Timang Gajah, Bener Meriah, mengungkapkan bahwa sebelum program ini berjalan, sekolah mereka menghadapi keterbatasan dan kerusakan sarana prasarana yang berdampak pada proses pembelajaran.

“Saya berharap, program Revitalisasi Satuan Pendidikan dapat terus berlanjut agar semakin banyak sekolah di daerah memperoleh lingkungan belajar yang layak,” kata Yusbida, yang sekolahnya mengalami kekurangan ruang kelas serta fasilitas pendukung.

Marhamah menambahkan bahwa rumah ibadah sekolah dan laboratorium IPA di sekolahnya sempat rusak dan tidak dapat dimanfaatkan. “Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Mendikdasmen atas perhatian dan dukungan pemerintah (merehabilitasi sekolah) karena manfaatnya dirasakan nyata,” pungkasnya.

Advertisement