Sosok di balik adegan-adegan berbahaya yang memukau penonton di layar lebar, Udeh Nans, memiliki nama asli Saifuddin Mubdy. Pria asal Pemalang ini telah mengukir jejak panjang sebagai stunt coordinator berpengalaman di industri film, baik domestik maupun internasional.
Perancang Adegan Berisiko Tinggi
Sebagai stunt coordinator, Udeh Nans bertanggung jawab penuh dalam merancang dan mengkoordinasikan setiap detail adegan laga. Mulai dari aksi kejar-kejaran mobil yang menegangkan, tabrakan spektakuler, koreografi bela diri yang memukau, hingga adegan ekstrem seperti tubuh terbakar, semuanya dirancang untuk memberikan pengalaman visual yang tak terlupakan bagi penonton.
Rekam jejak Udeh Nans mencakup partisipasinya dalam berbagai produksi film besar. Ia terlibat dalam duologi The Raid (2011 & 2014), Grisse (2018), duologi Agak Laen (2024 & 2025), Monkey Man (2024), Tinggal Meninggal (2025), Sore: Istri dari Masa Depan (2025), Abadi Nan Jaya (2025), dan masih banyak lagi.
Dari Pemalang ke Panggung Dunia Film
Jauh sebelum dikenal sebagai Udeh Nans, ia adalah Saifuddin Mubdy, seorang bocah dari Pemalang. Kecintaannya pada film, terutama The Terminator (1984), menumbuhkan mimpinya untuk berkarier di dunia stunt. Cita-cita ini ia pegang erat hingga memutuskan untuk merantau ke Jakarta pada awal tahun 2000-an.
Tanpa izin keluarga, Udeh nekat meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai hotelier demi mengejar mimpi. Kehidupan di ibu kota dimulai sebagai stuntman, di mana wajahnya perlahan mulai muncul di berbagai sinetron laga Indonesia seperti Cinta Terlarang (2006), Jangan Salahkan Aku (2005), dan lainnya. Dalam peran-peran tersebut, ia kerap berhadapan langsung dengan bahaya, mulai dari menerima pukulan keras, terlempar jauh, hingga tertabrak kendaraan.
Perjuangan dan Cedera Seorang Stuntman
Jam terbang Udeh yang semakin tinggi diiringi dengan berbagai cedera fisik. Leher yang nyaris patah, dislokasi bahu, cedera lutut, dan tulang rusuk adalah beberapa luka yang ia alami. Namun, semua itu ia jalani dengan ikhlas, meski hanya menerima upah 150 ribu rupiah per bulan dan uang makan 15 ribu rupiah per hari.
“Ya itu tahun 2005. Kondisi saya juga numpang di kantor PH (Production House, red)-nya. Tidur hanya beralaskan koran, bantalnya itu ya pakai tas saya itu. Saya bujangan, tidak punya tanggungan, ya kan?” ucap Udeh dalam program Sosok detikcom.
Transisi Menjadi Stunt Coordinator dan Perhatian pada Kesejahteraan Kru
Seiring bertambahnya usia dan kebutuhan hidup, Udeh menyadari stagnasi kariernya sebagai stuntman. Ia pun bertekad untuk menapaki jenjang karier sebagai stunt coordinator. Selama bertahun-tahun, ia tekun mengasah kemampuan sambil tetap aktif sebagai stuntman profesional.
Berkat kegigihannya, Udeh berhasil mengumpulkan dana untuk mengikuti kelas Stunt Academy di Australia pada tahun 2016. Sepulangnya dari sana, ia mantap memulai karier sebagai stunt coordinator.
Berkaca dari pengalamannya, Udeh berupaya membangun ekosistem yang lebih sehat bagi para pelaku stunt. Ia mendirikan PT Pejuang Laga Indonesia, yang dikenal sebagai Pejuang Stunt. Organisasi ini bertujuan menaungi para stuntman secara lebih aman dan terorganisir, mencakup sistem pembayaran, penyaluran kru, keamanan kerja, hingga pengembangan kapasitas dan solidaritas.
“Saya mengutip dari pernyataannya Bruce Law, salah satu stunt coordinator mobil. Jadi jika ada stunt yang cedera, berarti saya orang jahat. Saya bikin orang terluka dalam pekerjaan yang saya naungi. Jadi saya sangat memegang itu, jangan sampai ada stunt ataupun pemain cedera pada saat saya bertugas atau di project-project yang saya naungi,” jelas Udeh.






