Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat menceritakan perjalanan kariernya yang berawal dari kesetiaannya kepada Bung Karno, yang turut membentuk jalan hidupnya hingga menjadi hakim konstitusi. Kisah ini diungkap Arief saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran dan bedah buku miliknya di Gedung MK, Jakarta Pusat, pada Senin (2/2/2026).
Acara tersebut dihadiri oleh para hakim MK, mantan Ketua MK Mahfud Md dan Hamdan Zoelva, serta politikus PDIP Yasonna Laoly dan Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul. Arief mengawali ceritanya dengan mengenang masa-masa awal menjadi dosen muda, di mana ia memajang foto Bung Karno di ruangannya. Foto tersebut, menurutnya, menjadi titik balik yang mengubah hidupnya.
“Saya pada awal jadi dosen muda, saya itu memasang foto Bung Karno di ruang dosen saya, pada saat itu seorang tokoh, guru besar senior berkata ke saya begini ‘Arief kamu kalau ikut foto itu terus nggak mungkin bisa cari makan, tolong tinggalkan, ikut saya’,” ucap Arief menirukan perkataan guru besar tersebut.
Namun, Arief menolak tawaran itu. “Tapi saya bilang ‘mohon maaf Prof, saya tetap setia dengan beliau’, dalam arti setia dalam ajaran-ajaran beliau, sehingga sampai hari ini saya masih menggunakan jaket yang paling saya suka adalah jaket merah, karena jaket merah itu PA GMNI sekaligus Fakultas Hukum Universitas Dipenogoro juga merah, dan warna merah kayaknya membekas sekali di hati saya sejak saya kecil,” imbuhnya.
Perjalanan Arief berlanjut ketika ia menjadi anak angkat Taufik Kiemas, suami dari Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang juga Ketua Umum PDIP. “Tapi nggak tahu, setelah saya ke Jakarta saya ini dipungut menjadi anak pungut Bapak Taufik Kiemas. Pada waktu itu Bapak Taufik Kiemas Ketua MPR menyampaikan kepada saya, ‘Arief Hidayat pemikiran-pemikirannya kayaknya berguna di tingkat nasional, jangan hanya di tingkat Undip, sejak saat itu Pak Taufik Kiemas sering mengajak diskusi saya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan konsepsi negara hukum yang berwatak Pancasila,” tutur Arief.
Hingga akhirnya, Arief terpilih menjadi hakim MK. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya. Selain itu, Arief juga menyebutkan ‘keuntungan’ lain dari kesetiaannya, salah satunya adalah kesempatan mengenal anak-anak Soekarno.
“Yang perlu saya sampaikan kehadiran Mas Guntur Soekarnoputra, terima kasih Mas To. Jadi Mas To, saya nggak nyangka sama sekali, kesetiaan saya terhadap foto Bung Karno membawa berkah saya kenal dengan putra-putranya dengan baik sampai hari ini,” ucapnya.
Arief juga mengaku bahwa konsistensinya dalam memegang prinsip seringkali dipertanyakan oleh anak-anaknya sendiri. Ia bahkan kerap dilarang untuk terlibat dalam urusan politik praktis, termasuk Pilpres. “Jadi konsistensi saya, dan konsistensi saya itu sering dianu anak-anak ‘Pah mbok sudah lah sudah tua nggak usah aneh-aneh, Pilpres mbok dibiarkan saja’, tapi hati nurani saya tidak bisa mengatakan itu, sehingga saya berbuat lain,” pungkasnya.






